El Nino Godzilla Mengganas, 311,8 Hektare Sawah Kabupaten Tangerang Terancam Puso
Sebanyak 311,8 hektare sawah di Kabupaten Tangerang terancam puso akibat kemarau ekstrem. Lahan terdampak tersebar di 17 kecamatan dan 27 desa.
Tangsellife.com - Bukan cuma krisis air yang mengintai Kabupaten Tangerang. Kemarau ekstrem yang dikaitkan dengan fenomena El Nino Godzilla kini mulai mengancam lahan pertanian.
Sedikitnya 311,8 hektare sawah di Kabupaten Tangerang berpotensi mengalami gagal panen atau puso.
Angka tersebut berdasarkan pendataan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang) per 14 September 2026. Luasan lahan yang terdampak bahkan diperkirakan masih bisa bertambah jika kondisi kering terus berlanjut.
Kepala DPKP Kabupaten Tangerang, Ujang Sudiartono, mengatakan ancaman puso mengikuti perkembangan kondisi iklim dan prakiraan cuaca dari BMKG.
“Berdasarkan data per tanggal 14 September area terdampak puso seluas 311,8 hektare. Dan diperkirakan akan bertambah sejalan dengan kondisi iklim sesuai dengan prakiraan cuaca dari BMKG,” ujar Ujang.
Ancaman tersebut tidak terkonsentrasi di satu wilayah. Lahan pertanian yang berpotensi gagal panen tersebar di 17 kecamatan dan 27 desa.
Wilayah yang masuk pendataan antara lain Cisoka, Tigaraksa, Gunung Kaler, Kronjo, Solear, Panongan, Teluknaga, Mekar Baru, Jambe, Pakuhaji, Sindang Jaya, Rajeg, Kemiri, Sukadiri, Mauk, Sukamulya, dan Kresek.
Bagi petani, ancaman puso bukan sekadar persoalan lahan mengering. Jika tanaman gagal dipanen, produktivitas pertanian ikut tertekan dan pendapatan petani berpotensi terdampak.
311,8 Hektare Belum Tentu Angka Akhir
Yang membuat situasi semakin mengkhawatirkan, angka 311,8 hektare bukan angka final.
DPKP memperkirakan luas lahan terdampak dapat meningkat seiring kondisi cuaca. Artinya, semakin panjang periode tanpa hujan, semakin besar pula potensi lahan pertanian yang masuk kategori terdampak.
Di sisi lain, BPBD Kabupaten Tangerang mencatat 25 kecamatan berstatus Awas Bencana Kekeringan. Status tersebut berkaitan dengan potensi Hari Tanpa Hujan (HTH) lebih dari 60 hari serta curah hujan yang sangat rendah.
Ke-25 kecamatan itu yakni Balaraja, Cikupa, Cisauk, Curug, Gunung Kaler, Jambe, Jayanti, Kelapa Dua, Kresek, Kronjo, Kosambi, Legok, Mauk, Mekar Baru, Pagedangan, Pakuhaji, Panongan, Pasar Kemis, Rajeg, Sepatan Timur, Solear, Sukadiri, Sukamulya, Teluknaga, dan Tigaraksa.
Kepala BPBD Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik, mengatakan hujan yang turun di sejumlah wilayah belum cukup untuk mengatasi kekeringan.
“Hampir seluruhnya itu. Karena ada hujan pun hanya gerimis ya, paling sekitaran Tigaraksa gitu. Tapi kan malah itu yang terbanyak jumlah kebakarannya,” kata Taufik.
Pemerintah Siapkan Benih Pengganti
Di tengah ancaman gagal panen, Pemkab Tangerang bersama Pemprov Banten menyiapkan langkah untuk membantu petani yang lahannya mengalami puso.
Salah satunya melalui penyediaan benih pengganti bagi petani yang mengalami gagal panen.
“Pemkab Tangerang berkolaborasi dgn Pemprov Banten berupaya menyiapkan benih pengganti bagi para petani yg mengalami puso,” kata Ujang.
Namun, bantuan benih baru dapat diberikan setelah petani mengalami puso. Sementara ancaman saat ini masih berpotensi meluas.
Data BPBD juga menunjukkan kekeringan bukan persoalan yang terjadi di sedikit titik. Hingga pertengahan September, 25 kecamatan telah masuk status Awas, sementara distribusi air bersih telah dilakukan ratusan kali ke titik terdampak.
Kini persoalannya bukan hanya berapa luas sawah yang sudah terdampak, tetapi seberapa jauh kekeringan akan meluas jika hujan belum juga datang.
311,8 hektare sudah berada dalam ancaman. Jika kemarau terus bertahan, angka itu masih bisa bertambah.
