Bukan Sekadar Punya Harta Rp177 Miliar, Ini Jejak Alexandra Askandar Sebelum Duduk di Kursi Wadirut BNI
Alexandra Askandar bukan tiba-tiba berada di pucuk BNI. Ia meniti karier panjang sejak 2000 di Bank Mandiri, menjadi direktur dan Wadirut sebelum akhirnya dipercaya menjadi Wadirut BNI pada 2025.
Tangsellife.com - Nama Alexandra Askandar belakangan menarik perhatian bukan hanya karena posisinya sebagai Wakil Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI, tetapi juga karena angka kekayaan yang tercantum dalam LHKPN.
Harta Alexandra dalam LHKPN periode 2024 tercatat sekitar Rp177,3 miliar.
Namun, angka tersebut hanyalah satu bagian dari cerita.
Sebelum duduk di kursi Wadirut BNI, Alexandra telah melewati perjalanan panjang di industri perbankan. Ia menghabiskan sekitar seperempat abad di Bank Mandiri dan menempati sejumlah posisi strategis sebelum akhirnya berpindah ke BNI pada 2025.
Lantas, seperti apa perjalanan Alexandra hingga bisa berada di jajaran pucuk pimpinan salah satu bank BUMN terbesar di Indonesia?
Bukan Tiba-tiba Muncul di Pucuk Bank BUMN
Alexandra memulai perjalanan profesionalnya jauh sebelum dikenal sebagai salah satu bankir perempuan di jajaran elite BUMN.
Menurut profil resmi Bank Mandiri, ia pernah bekerja sebagai Manager Finance Division PT Surveyor Indonesia pada 1995-1996.
Setelah itu, ia menjadi ISO 9000 & 14000 Consultant di perusahaan yang sama pada 1996-1997.
Kariernya kemudian bersinggungan langsung dengan dunia perbankan ketika ia menjadi Account Manager di Loan Work Out Division Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) pada 1999-2000.
Dari sinilah perjalanan panjangnya di Bank Mandiri dimulai.
Tahun 2000 Masuk Bank Mandiri
Pada 2000, Alexandra bergabung dengan Bank Mandiri sebagai Senior Relationship Manager Corporate Banking Group.
Ia tidak langsung menduduki kursi direksi.
Selama bertahun-tahun, Alexandra melewati sejumlah posisi di lini bisnis korporasi.
Ia menjadi Department Head Corporate Banking III Group pada 2007-2009, kemudian dipercaya sebagai Group Head Syndication, Oil & Gas pada 2009-2015.
Pada 2015-2016, ia kembali mendapat tanggung jawab sebagai Group Head Corporate Banking V Group.
Jejak tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar fase awal karier Alexandra dibangun di sektor corporate banking, bukan dari posisi administratif biasa.
Naik Menjadi SEVP Corporate Banking
Lompatan karier berikutnya terjadi pada 2016.
Alexandra dipercaya menjadi Senior Executive Vice President Corporate Banking Bank Mandiri.
Posisi ini menempatkannya di level eksekutif senior sebelum kemudian masuk jajaran direksi.
Pada periode tersebut, pengalaman Alexandra di bisnis korporasi semakin panjang dan menjadi bagian penting dari rekam jejak profesionalnya.
Menariknya, sebelum akhirnya menjadi direksi, Alexandra juga pernah menjadi Komisaris PT Mandiri Sekuritas pada 2011 hingga Maret 2018.
Masuk Jajaran Direksi Bank Mandiri
Tahun 2018 menjadi titik penting.
Alexandra diangkat sebagai Direktur Hubungan Kelembagaan Bank Mandiri.
Setahun kemudian, ia berpindah menjadi Direktur Corporate Banking pada 2019-2020.
Dua posisi tersebut memperlihatkan semakin luasnya tanggung jawab Alexandra.
Jika sebelumnya banyak berkutat dengan bisnis korporasi, kemudian ia mendapat tanggung jawab yang lebih besar dalam hubungan kelembagaan dan pengelolaan bisnis corporate banking.
2020: Duduk di Kursi Wadirut Bank Mandiri
Puncak karier Alexandra di Bank Mandiri terjadi pada Oktober 2020.
Ia ditunjuk menjadi Wakil Direktur Utama Bank Mandiri.
Posisi tersebut dijalani hingga Maret 2025.
Artinya, sebelum pindah ke BNI, Alexandra sudah lebih dulu berada di kursi wakil direktur utama salah satu bank BUMN terbesar di Indonesia selama sekitar lima tahun.
Kariernya pun tidak dibangun dalam waktu singkat.
Dari posisi relationship manager pada 2000, ia melewati sejumlah jenjang hingga akhirnya berada di jajaran direksi.
Dari Mandiri ke BNI
Pada 26 Maret 2025, Alexandra resmi ditetapkan sebagai Wakil Direktur Utama BNI melalui RUPST.
Ia mendampingi Putrama Wahju Setyawan yang ditetapkan sebagai Direktur Utama.
Laporan tahunan BNI mencatat pengangkatannya sebagai Wadirut BNI berlaku berdasarkan keputusan RUPS Tahunan 26 Maret 2025 dan mendapat persetujuan OJK pada 5 Juni 2025.
Dengan perpindahan tersebut, Alexandra kembali berada di jajaran puncak bank BUMN, tetapi kali ini di BNI.
Pendidikan Ekonomi, Lalu Memperdalam Finance di Amerika
Di balik perjalanan karier tersebut, Alexandra memiliki latar pendidikan yang memang berkaitan dengan dunia finansial.
Ia merupakan lulusan S1 Ekonomi Universitas Indonesia.
Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat dan memperoleh gelar Master of Finance dari Boston University. BNI juga mencatat Alexandra memiliki sertifikasi kompetensi manajemen risiko jenjang kualifikasi 7 dari LSPP pada 2024.
Jadi, perjalanan Alexandra memperlihatkan kombinasi antara pendidikan ekonomi-keuangan dan pengalaman panjang di industri perbankan.
Bukan Hanya Bankir, Alexandra Juga Aktif di Organisasi Profesional
Karier Alexandra tidak hanya tercatat dalam struktur perusahaan.
Profil yang dipublikasikan BNI mencatat sejumlah keterlibatannya dalam organisasi profesional.
Alexandra tercatat sebagai Vice Chairman PERBANAS sejak Januari 2025 dan Wakil Ketua III Pengurus Pusat ISEI sejak Desember 2024.
Sebelumnya, ia juga pernah menjadi Chairperson Forum Human Capital Indonesia (FHCI) periode 2021-2024, Chairperson ILUNI FEB UI periode 2022-2023, serta Chairperson Srikandi BUMN periode 2020-2021.
Lalu Bagaimana dengan Harta Rp177 Miliar?
Barulah kemudian masuk ke angka yang membuat profil Alexandra semakin menarik.
Dalam LHKPN periode 2024, total harta Alexandra tercatat Rp177.300.178.825.
Komponen besar dalam laporan tersebut antara lain surat berharga sekitar Rp82,51 miliar dan tanah serta bangunan sekitar Rp70,46 miliar.
Ia juga melaporkan kendaraan dan mesin sekitar Rp1,08 miliar serta kas dan setara kas sekitar Rp12,15 miliar.
Namun perlu dicatat, LHKPN tersebut merupakan laporan periode 2024, ketika Alexandra masih menjabat sebagai Wadirut Bank Mandiri.
Jadi angka tersebut bukan laporan kekayaan setelah ia menjadi Wadirut BNI.
Dari Meja Corporate Banking ke Pucuk Bank BUMN
Perjalanan Alexandra menjadi menarik karena kariernya tidak terjadi secara instan.
Ada rentang panjang dari Finance Division → konsultan → Loan Work Out BPPN → Corporate Banking Bank Mandiri → SEVP → Direktur → Wadirut Bank Mandiri → Wadirut BNI.
Dua puluh lima tahun lebih perjalanan profesional tersebut akhirnya membawa Alexandra ke salah satu posisi strategis di BNI.
Dan kini, ketika namanya kembali muncul karena angka LHKPN Rp177 miliar, publik sebenarnya sedang melihat bagian kecil dari perjalanan karier panjang seorang bankir yang telah lama berada di lingkaran atas industri perbankan nasional.
