Sabtu, 01 Agt 2026 NasionalHukum & KriminalEkonomiSeputar TangselTeknologi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

Saat Soeharto Marah Besar ke Menteri Ekonomi di Rumah Pribadinya, Anggaran Proyek Rp1,7 Triliun Langsung Cair

✍️ S Jule P 🕒 25 Jun 2026 👁️ 14x dibaca
Saat Soeharto Marah Besar ke Menteri Ekonomi di Rumah Pribadinya, Anggaran Proyek Rp1,7 Triliun Langsung Cair

Tangsellife.com - Di balik gaya kepemimpinannya yang dikenal tenang dan penuh perhitungan, Presiden ke-2 Republik Indonesia Soeharto ternyata pernah meluapkan kemarahan besar kepada jajaran menteri ekonominya.

Peristiwa tersebut terjadi pada 1976 saat pemerintah tengah menggarap Proyek Asahan, salah satu proyek industri terbesar dalam sejarah Indonesia yang kala itu bernilai sekitar 411 miliar yen atau setara Rp1,7 triliun.

Kemarahan Soeharto dipicu karena anggaran proyek strategis tersebut tak kunjung dicairkan meski berbagai upaya koordinasi telah dilakukan.

Proyek Asahan Jadi Prioritas Pemerintah

Proyek Asahan merupakan kerja sama Indonesia dengan sejumlah perusahaan Jepang yang memanfaatkan aliran Sungai Asahan di Sumatera Utara untuk pembangkit listrik tenaga air dan industri peleburan aluminium.

Karena nilai investasinya sangat besar dan dianggap penting bagi masa depan industri nasional, Soeharto memberikan perhatian khusus terhadap proyek tersebut.

Untuk memastikan proyek berjalan sesuai rencana, Soeharto menunjuk orang kepercayaannya, A.R. Soehoed, sebagai Ketua Otorita Proyek Asahan.

Namun dalam pelaksanaannya, proyek tersebut menghadapi kendala serius, yakni anggaran yang dibutuhkan tidak kunjung turun dari pemerintah.

Soehoed Kesulitan Mengurus Anggaran

A.R. Soehoed mengaku telah berulang kali berkoordinasi dengan para menteri ekonomi guna mempercepat pencairan dana proyek.

Namun berbagai upaya yang dilakukan tidak membuahkan hasil. Permintaan anggaran tetap belum mendapatkan respons yang diharapkan.

Karena frustrasi, Soehoed akhirnya melaporkan langsung persoalan tersebut kepada Presiden Soeharto.

Awalnya, Soeharto meminta Soehoed kembali berkoordinasi dengan jajaran menteri ekonomi. Namun setelah dicoba lagi, hasilnya tetap nihil.

"Tapi, saya minta sama Menko Ekuin, tidak ditanggap juga. Jadi, akhirnya saya datang lagi pada Pak Harto," ujar Soehoed seperti dikutip dalam buku Dari Soekarno sampai SBY: Intrik & Lobi Politik Para Penguasa karya Tjipta Lesmana.

Wajah Soeharto Mendadak Merah

Saat menerima laporan tersebut, Soeharto kembali memastikan apakah benar semua upaya sudah dilakukan namun tetap tidak berhasil.

Soehoed menjawab santai sambil tertawa bahwa berbagai usaha memang tidak membuahkan hasil.

Namun reaksi Soeharto di luar dugaan.

Menurut penuturan Soehoed, wajah presiden mendadak berubah merah mendengar laporan tersebut.

Tanpa banyak bicara, Soeharto hanya meminta Soehoed menunggu hingga sore hari.

Menteri Ekonomi Dipanggil ke Rumah Cendana

Pada sore harinya, Soehoed mendapat panggilan ke kediaman pribadi Presiden Soeharto di Jalan Cendana, Jakarta.

Sesampainya di sana, ia mendapati Wakil Presiden Sri Sultan Hamengkubuwana IX beserta seluruh jajaran menteri ekonomi sudah hadir.

Di forum itulah Soeharto meluapkan kemarahannya.

Presiden menilai para menteri tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap proyek yang dianggap sangat penting bagi masa depan industri nasional.

Soeharto Bentak Para Menteri

Dalam pertemuan tersebut, Soeharto secara tegas menegur para pembantunya.

"Saudara harus sadar bahwa Proyek Asahan ini penting sekali! Ini proyek jangka panjang, dan perlu ditunjang dengan anggaran yang cukup. Semua perhatikan ini!" tegas Soeharto.

Suasana rapat seketika berubah tegang.

Menurut kesaksian Soehoed, seluruh peserta rapat memilih diam dan tidak ada yang berani menatap langsung wajah presiden.

Bahkan Soehoed sendiri mengaku terkejut melihat Soeharto membentak para menteri ekonomi yang selama ini dikenal sebagai tokoh-tokoh penting pemerintahan.

Anggaran Akhirnya Cair

Setelah pertemuan tersebut, persoalan anggaran yang selama ini menghambat proyek perlahan mulai teratasi.

Dana yang dibutuhkan akhirnya mengalir dan pembangunan Proyek Asahan kembali berjalan sesuai rencana.

Delapan tahun kemudian, tepatnya pada 6 November 1984, Presiden Soeharto meresmikan Proyek Asahan sebagai salah satu tonggak penting industrialisasi Indonesia.

Setelah kerja sama dengan pihak Jepang berakhir pada 9 Desember 2013, pengelolaan proyek tersebut sepenuhnya beralih ke Indonesia melalui perusahaan BUMN PT INALUM.

Hingga kini, Proyek Asahan masih menjadi salah satu warisan industri terbesar yang pernah dibangun pemerintah Indonesia pada era Orde Baru.

SP
S Jule PRedaktur
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update